Wednesday, March 23, 2016

Ketika Kematian Mendekat, Maka Bersiaplah




Time Is Running Out Turn To Allah Before The End

Mengingat mati membuat hati kita dagdigdugjeger, tapi itulah akhir kehidupan kita, sebagai umat-Nya sedini mungkin kita bersiap akan hal itu, dengan adanya kematian pengingat kita atas perilaku yang kita perbuat didunia.

Terlintas perasaan takut akan kematian dikala Allah mengujiku dengan segala ujiannya disaat aku melahirkan anak-anakku, dan disaat aku mengidap penyakit yang diharuskan melakukan operasi yang amat sangat membuatku putus asa dan kedua hal ini membuatku sadar bahwa kematian bisa saja, kapan saja, dimana saja dapat menjemput kita.

Dimana saat itu adalah kematianlah yang paling dekat denganku, tapi Allah memutuskan segalanya dan berbaik hati kepadaku hingga hari ini aku diberikan berkah, nikmat sehat, serta panjang umur dalam menjalani kehidupan bersama keluarga Kecilku. 

Tapi entahlah, seandainya saat kematian akan menjemput, aku akan mempersiapkan diriku untuk menerimanya dengan keikhlasan hati dan meminta kepada-Nya untuk diberikan waktu, hanya sedikit waktu, hanya 8 hari yang kupinta, 8 hari untuk melakukan hal-hal yang dapat membuatku tenang dalam perjalanan menuju tidur panjangku dan meninggalkan senyuman bagi setiap orang yang menginggatku dikala aku pergi. 

Hari pertama,
Bertemu kedua orang tuaku, memohon maaf dan ampun atas tingkah lakuku yang terkadang membuat mereka marah, jengkel, dan kesal. Melayani mereka dengan penuh keikhlasan dan apa yang mereka inginkan inshallah akan aku penuhi, aku ingin menjadi anak yang lebih berbakti disaat-saat terakhirku.

Hari kedua,
Bersilaturahmi dengan siapapun yang mengenalku, cukup satu hari tak lebih, dari pagi hingga malam aku habiskan dengan menemui semua orang yang mengenalku dan meminta maaf atas segala kesalahanku terdahulu. Hal ini kulakuan agar aku tenang dan tidak meninggalkan beban bagiku dan bagi mereka tentunya.

Hari ketiga,
Menghabiskan waktu bersama keluarga kecilku, mengajak mereka bermalam diarena perkempingan sekitar pegunungan dan disaat pagi harinya kami disuguhkan dengan pemandangan terbitnya mentari yang menyambut kehidupan. Bercerita kepada anak-anakku tentang apa arti kehidupan yang sesungguhnya dan memberikan pengertian kepada mereka untuk selalu bersyukur dengan kehidupan yang mereka miliki, serta jangan pernah sekalipun menyianyiakan hidup.

Hari keempat,
Bernostalgia dengan suami tercinta, mengulang hal-hal indah yang pernah aku lakukan saat berdua dengannya, touring dengan motor besar ke puncak, makan berdua disebuah warung pinggir jalan, nongkrong dipuncak pass sambil ngobrol ngarol ngidul dengan secangkir kopi hitam yang hangat. Memori yang tanpa batas hingga kematian membuatnya dari manis menjadi pahit. Sesungguhnya Kematian itu pasti, maka buatlah hidup semanis yang kita bisa. 

Hari kelima,
Melunasi sangkutan/hutang, hutang adalah kewajiban bagi orang-orang yang meminjamnya untuk mengembalikan dan berdosa baginya bila tidak mengembalikan. Hutang adalah beban bagi kita di alam kematian bila kita tidak melunasinya.

Hari keenam,
Bersedekah, dan memperbanyak amalan sholeh, bersedekah dengan mendatangi salah satu panti asuhan yang seringkali aku dan suami datangi dan menyantuni mereka. Bersedekah untuk kaum-kaum duafa disekitar daerah rumah. Dan menurut suatu hadist jika manusia itu mati, amalannya terputus, maka dari itu bahwasannya seorang muslim hendaklah memperbanyak amalan sholeh sebelum ia meninggal dunia. Dan inshallah hal ini ingin aku lakukan sebelum kematian menjemputku.

"Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.'' (HR Muslim).

Hari ketujuh
Bersimpuh dan bersujud dihadapan-Nya, meminta ampun atas segala dosa dan perilaku yang kuperbuat selama hidup didunia. Berdzikir dengan khusyuk serta menenangkan diri karena hari kematianku amat sangat dekat.

Hari kedelapan
Sholat berjamaah bersama keluarga kecilku, karena hal ini jarang sekali aku lakukan dan inilah kesempatan terakhirkuku untuk bisa shalat berjamaah bersama mereka. Terkadang hal sekecil ini meninggalkan kerinduan yang mendalam dimana kami bersimpuh bersama mengharap berkah dan nikmat dari-Nya.

Dan setelah ini, melihat mereka tersenyum aku akan tenang untuk pergi jauh meninggalkan mereka, 8 hari adalah waktu yang sedikit tapi bila dipergunakan dengan baik maka banyak sekali hal-hal indah dan berguna serta menjadi bekal kita di akhirat nanti.

Membayangkan kematian begitu dekat membuat kita selalu mengingat bahwa kita hanyalah fana yang berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. tempat peristirahatan terakhir, rumah terakhir kita dimana kita tertidur lelap meninggalkan semua yang kita miliki, sayangi dan ingat.

Maka ingatlah jangan pernah melakukan hal yang dimurkai Allah dan menjaga diri dari hal-hal yang merugikan kita. Karena Inshallah setiap insan menginginkan kematian yang baik baginya dengan berbekal amalan sholeh serta menjadi Khusnul khotimah. Aamiin


Tulisan ini diikutsertakan dalam dnamora Giveaway

Terima kasih atas kujungannya, jangan lupa tinggalkan komen, follow my blog, my IG, my twitter and My FB








11 comments:

  1. Mbrebes mili klo mengingat kematian, teringat utang amalku masi banyak
    Wah mb uni dah setor ga nya nih, aku pengen ikut tapi bingung ngrangkai kalimatnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget nita mbul, amal harus diperbanyak mengingat kematian kapanpun akan datang.
      Ayuh atuh disetor tulisannya kita bareng" ikut GAnya :)

      Delete
  2. Tak tahu kenapa, rasanya memang merinding gimana gitu ketika mengucapkan sekaligus menulis ttg kmatiann ,heeee
    Mengisnpirasi bnget mbk,
    salam kenal ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba merinding dan harus siap jikala maut menjemput.
      salam kenal juga, makasi dah bertandan ke rumahku :)

      Delete
  3. Menulis detik kemarian sendiri adalah sesuatu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali mba enny, makasi ya mba dah berkunjung

      Delete
  4. Menulis detik kemarian sendiri adalah sesuatu..

    ReplyDelete
  5. Terimakasih tulisannya, Melimpah berkah segala urusannya,, aamiin

    ReplyDelete
  6. kita pasti mati, trimakasih sudah mengingatkn lewat tulisannya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan kita harus siap kapanpun itu
      sama" ya mba.. makasih dah berkunjung :)

      Delete